Sunday, June 26, 2011

BUDAYA BISNIS RRC PADA ERA GLOBALISASI


I.PENDAHULUAN

Dimulai pada awal era 1980-an RRC mengalami tidak kurang daripada keajaiban ekonomi. Saat ini RRC merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia; Dengan GDP sebesar US$ 8,158 trilyun pada 2005, GDP sebesar kurang lebih US$ 1.703 perkapita pada 2005, dan pertumbuhan ekonomi 9,2% setiap tahunnya. Aspek terpenting dari fenomena ini adalah sebuah sistem terbarunya yang sangat unik. Sistem itu bukan jiplakan dari sistem ekonomi yang pernah ada, melainkan sesuai dengan citarasa Cina yang khas (Prof. Michael Hough, 1995). Sistem ekonomi baru itu akan menjamin pertumbuhan dan kemakmuran Cina sampai abad ke-21. Dengan penduduk yang sekarang sudah mencapai sekitar 1,3 milyar (satu perlima total penduduk dunia), pasar terbesar dunia, RRC selalu akan menyediakan peluang bisnis yang menggiurkan dan menguntungkan bagi pengusaha manapun juga.

Pencapaian RRC moderen tidak lepas dari usaha Partai Komunis Cina (PKC) yang mereformasi negaranya secara besar-besaran dan menciptakan sistemnya yang unik: you Zhongguo tese de shehuizhuyi ??????????, atau Sosialisme yang bercirikan Cina. Pada bidang ekonomi, pidato Deng Xiaoping yang dikenal sebagai “ucapan nanxun” dikristalisasikan dalam Konggres Nasional PKC ke-14 (September 1992), yang kemudian melahirkan rumusan shehuizhuyi shichang jingji ???????? (ekonomi pasar sosialis). Sejak saat itu, kebijakan yang dituangkan dalam garis besar haluan negara ini, mendasari pertumbuhan ekonomi RRC hingga saat ini.

Serba perubahan pada awal “era globalisasi” menuntut peninjauan ulang atas tanggapan lama mengenai budaya bisnis suatu negara, tidak terkecuali budaya bisnis Cina. Analisis para peneliti diharuskan untuk dapat menyajikan dengan hidup dan tepat gambaran mengenai bisnis/perekonomian RRC pada jaman moderen. “Informasi, yang mirip teknologi, cepat usang dan tidak relevan lagi.” Pentingnya mempelajari cara belajar ini mengingatkan kita pada hakekat pendidikan di era globalisasi, yang mencerminkan pendekatan yang sangat praktis terhadap studi tentang Cina kontemporer.

Berangkat dari hal-hal tersebut ketertarikan penulis terhadap budaya RRC moderen, memberikan banyak pertanyaan menantang yang menarik untuk dibahas. Sebutlah kasus-kasus seperti konsistensi ideologi negara, perubahan nilai-nilai kebudayaan, jaringan bisnis Cina, problem diaspora, dan lain-lain. Namun, hal menarik yang dapat ditemukan ketika berbagai pertanyaan tersebut akan dituangkan ke dalam suatu analisis mendalam, semuanya berangkat dari satu hulu yang sama: Apa yang sedang terjadi pada Cina sekarang? Lebih jauh lagi, pertanyaan tersebut kemudian membawa kita pada suatu usaha pencarian pemahaman baru akan Cina yang ‘bertransformasi’, atau sama seperti pada pameo yang belakangan sering kita dengar : “Sang Naga telah bangkit dari tidurnya.”

Ditinjau dari angle kebudayaan, aspek terpenting dari fenomena yang terjadi di Cina moderen dapat disajikan dalam suatu titik fokus tertentu, yang diharapkan dapat memberikan pemahaman atas pertanyaan-pertanyaan dasar seperti mengapa, kapan, bagaimana, apa, dan siapa; Bidang perekonomian sebagai ujung tombak pembangunan negara melahirkan banyak elemen kebudayaan baik itu simbol-simbol, cara interaksi, distribusi konsep, jaringan bisnis, norma-etika bisnis, dan lain-lain. Ini semua yang kemudian dapat mengantarkan kita pada pemahaman terhadap keberhasilan bisnis Cina di era globalisasi. Di satu sisi, pernyataan “Budaya Bisnis Cina Moderen” yang berhasil mendongkrak kebangkitan RRC di mata dunia, mengandung makna yang sangat luas bagi para peneliti, sebagian menilainya kontradiktif, sebagian lagi menganggapnya sebagai suatu kewajaran.

Dikatakan kontradiktif karena, Cina sebagai salah satu kekuatan utama komunis dunia sejak 1949 jelas-jelas mengharamkan konsep kapitalisme & individualisme dalam menjalankan negaranya. Pada kenyataannya, saat ini ladang bisnis RRC yang potensial benar-benar digarap pemerintahnya dan dibuka seluas-luasnya untuk pihak asing (tetapi masih dengan kontrol yang ketat oleh PKC). Apalagi jika kita menengok kembali pada nilai-nilai lama seperti Konfusianisme yang sangat mempengaruhi pemikiran orang Cina hingga kini, keberhasilan dunia bisnis di RRC saat ini dapat dikatakan telah menyimpang sekali dari nilai-nilai lama dan mencoreng ideologi asal (komunisme). Kewajaran itu sendiri dapat dikatakan tercipta karena perkembangan jaman dan harga diri RRC yang tinggi di mata dunia internasional.

Baik itu kontradiktif maupun tidak, studi terhadap budaya bisnis Cina itu sendiri telah banyak menyita perhatian para peneliti belakangan ini. Tulisan kecil ini dibuat sebagai salah satu bahan pemahaman terhadap RRC moderen, khususnya tentang hubungan dalam bidang kebudayaan dan dunia bisnis Cina. Ruang lingkup yang digunakan adalah RRC pada era 1980-an sampai dengan 2003, di luar kota Hongkong dan Shanghai.

Budaya Bisnis Masyarakat Cina Tradisional


Pembahasan mengenai budaya bisnis RRC pada masa moderen tidak dapat dilepaskan dari kaitannya dengan kebudayaan masyarakat Cina tradisional. Pembahasan akan aspek ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan sistematis.

Momentum kebangkitan para kaum bisnis Cina sudah dimulai pada akhir abad kesembilan belas, tepatnya pada era awal kejatuhan dinasti Qing. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya kelas komprador pada struktural masyarakat Cina saat itu. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa sebelum masa ini kaum bisnis Cina tidak/belum pernah ada. Golongan pedagang sudah dikenal di Cina sejak runtuhnya feodalisme dinasti Zhou (1122-246 SM). Saat itu dan hingga seterusnya, golongan ini eksis di masyarakat Cina, namun menempati posisi sosial yang paling rendah. Masyarakat Cina tradisional menggunakan sistem hierarkis dalam memandang nilai pekerjaan seseorang. Penekanannya kepada nilai tenaga kerja (buruh) dan nilai bahan mentah.

Berikut adalah empat lapisan sosial yang terdapat pada masyarakat Cina tradisional, dari strata yang paling rendah hingga ke yang paling tinggi :

1. Kaum pedagang, pemain teater, tentara, pelacur

2. Kaum pengrajin (tukang batu, tukang kayu, dll)

3. Kaum petani

4. Kaum literati dan elit pemerintahan

Fungsi kaum pedagang pada masyarakat Cina tradisional dalam hubungannya dengan sistem strata sosial tersebut hanyalah sebatas sebagai pengelola pasar, pelatihan magang, dan ritual pemujaan. Mereka tidak pernah menentang sistem sosial yang sudah berjalan seperti itu, dan berharap dapat meningkatkan status sosial keluarganya dengan mendidik anak-anaknya agar dapat menjadi bagian dari kaum terpelajar.

Siapa atau apa yang membuat sistem sosial pada masyarakat Cina tradisional berlaku seperti itu? Sistem masyarakat Cina tradisional sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai lama seperti Konfusianisme. Ajaran yang muncul pada dinasti Zhou Timur ini mengajarkan suatu ideal tentang bagaimana suatu negara seharusnya dijalankan, dengan menekankan kepada pendidikan moral berdasarkan suatu sistem yang hierarkis. Hal ini dapat kita lihat dari konsep-konsep seperti Wu-lun (lima hubungan), empat konvensi moral, dan lain-lain. Terkhusus mengenai yang disebut terakhir, Konfusius mengajarkan bahwa negara (Cina) harus dijalankan secara hierarkis, yaitu: Cina dibangun berdasarkan negara keluarga, satu organisasi sosial yang otokratis, hierarkis, dan tidak demokratis. Kemakmuran bersama dicapai dari hasil-hasil pertanian. Kestabilan suatu negara dapat dijamin dengan hierarki yang jelas. Dengan kata lain, yang lebih rendah taat kepada yang lebih tinggi, dan yang lebih tinggi menunjukkan kemurahan hati sebagai balasan terhadap kesetiaan tersebut.

Dalam konvensi moralnya Konfusius juga mengajarkan tentang paham kolektivisme. Menurutnya, kolektivisme ini menentukan status individu yang ditentukan oleh hubungannya dengan sistem hierarki. Oleh karena itu, orang yang beretika Konfusian akan bertindak sesuai dengan harapan orang lain daripada harapan/keinginannya pribadi, sehingga mereka selalu bersedia bekerjasama. Individu tidak terpisah dari struktur sosial, melainkan sebagai komponen etis dari suatu bangunan sosial yang lebih besar. Semua hal yang disebut inilah yang mendasari atas berjalannya sistem sosial pada masyarakat Cina tradisional.

Telah diketahui bahwa kaum pedagang menempati posisi terbawah dari strata sosial masyarakat Cina tradisional. Kaum yang dianggap ‘berkemampuan’ lebih, atau ‘lihai’, dan selalu bernafsu mengejar keuntungan sendiri oleh masyarakat Cina tradisional ini, jelas-jelas diposisikan sebagai golongan inferior pada masyarakat, sama seperti yang dikemukakan oleh Guo Hengshi pada sebuah esainya yang berjudul The Early Development of The Modern Chinese Business Class : “Treacherous Merchant was the usual phrase for traders or middlemen. All material innovation and prosperity was renounced by the great teaching of Confucius and his followers.

From time to time, merchants were actually suppressed, especially when they appeared to mount in power.” Konsep pembagian tenaga kerja pada masyarakat Cina tradisional semata-mata berdasar atas dikotomi : literati dan petani. Literati berperan dalam menjalankan pemerintahan, petani diperintah dan memproduksi hasil bumi untuk mendukung para superordinatnya. Akibatnya, prestise kaum literati pada strata sosial lebih tinggi dibanding golongan lainnya, karena mereka dikatakan ‘bekerja dengan pikiran’, dan petani yang ‘menggunakan tangannya’ menempati posisi di bawahnya. Semua aktivitas penghidupan selain pengolahan tanah dianggap tidak lazim dan tanpa dukungan moral.

II. Keunikan Budaya Bisnis Cina

Sistem ekonomi pasar sosialis yang dilakukan di RRC sejak tahun 1992 memberikan banyak sekali kemajuan bagi masyarakat Cina moderen. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa sistem ekonomi Cina yang baru memiliki keunikan yang tidak pernah ada di negara manapun di dunia, sistem ini pun memiliki beberapa elemen-elemen penting yang lahir dari setiap aktivitas berbudaya (melalui bisnis).

Berikut beberapa elemen tersebut :

1. guanxi

2. ganqing

3. xinyong

II.I. guanxi


Secara harafiah, guanxi berarti hubungan. Makna ini dapat digunakan untuk setiap jenis hubungan. Dalam budaya bisnis Cina guanxi dapat diartikan sebagai ‘koneksi’. ‘Koneksi’ di sini bermakna sebagai suatu jaringan hubungan di antara bermacam-macam personal, kelompok / badan yang saling bekerjasama dan mendukung satu sama lain. Mental para pebisnis Cina sangat dekat maknanya dengan sebuah pameo dari Barat, “You scratch my back, I’ll scratch yours.” Di mana pun, kapan pun, dalam mengurus segala hal, orang Cina selalu “kao guanxi”, artinya pakai koneksi.

Tanpa memperhitungkan pengalaman seseorang / sebuah badan di negara asalnya, guanxi adalah jaminan akan kelancaran berbisnis di Cina. Guanxi dapat meminimalisir kemungkinan gagal suatu badan dalam berbisnis di Cina dan hambatan-hambatan lainnya seperti ‘prosedur bayangan’, dan lain-lain, jika didapatkan secara tepat. Seringkali guanxi yang benar-benat tepat dihubungkan dengan pihak yang berwenang (pejabat setempat / pemerintah) yang nantinya akan sangat menentukan eksistensi badan (perusahaan) tersebut di Cina dalam jangka panjang.
Guanxi dapat muncul dalam berbagai bentuk. Bisa saja terjadi dalam sebuah malam di tempat karaoke dengan pemimpin departemen pemadam kebakaran setempat, agar proposal pengajuan ruang kerja baru dengan komputerisasi yang mutakhir disetujui. Atau pada tingkat yang lebih tinggi, guanxi bisa saja berarti datangnya eksekutif perusahaan asing untuk berjabat tangan dengan menteri terkait yang menjadi kunci As dalam pengerjaan sektor industri potensial.

II.II. ganqing
Secara harafiah ganqing berarti perasaan. Dalam budaya bisnis Cina konsep ganqing masih berhubungan dekat dengan guanxi. Ganqing merefleksikan suasana umum dari hubungan sosial dari dua orang atau dua badan yang saling berinteraksi. Seseorang dapat dikatakan memiliki ganqing yang baik jika hubungannya dengan orang lain tersebut baik, selain track-record hubungan yang baik di antara keduanya. Sedangkan ganqing yang mendalam adalah terdapatnya ikatan perasaan / hubungan batin yang dalam pada hubungan sosial itu sendiri.
Contoh dari ganqing sering ditemukan pada pernyataan-pernyataan pemerintah Cina dan seringkali salah diterjemahkan ketika diaplikasikan pada konteks ini. Perkataan atau tindakan yang dapat melukai perasaan orang Cina sepatutnya dihindari jika ingin terus bekerjasama (berbisnis) dengan mereka. Konsep ganqing juga dekat sekali maknanya dengan konsep ‘muka’ dalam budaya Cina.

Konsep ‘muka’ dalam kebudayaan Cina mengacu kepada dua hal yang berbeda tapi saling berhubungan, yaitu mianzi ?? dan lianzi ??. Lian adalah kepercayaan masyarakat dalam karakter moral seseorang. Sedangkan mianzi merepresentasikan persepsi sosial terhadap prestise seseorang. Konsep menjaga muka sangat penting halnya dalam hubungan sosial masyarakat Cina karena muka mewakili kekuasaan dan pengaruh. Kehilangan lian berakibat pada hilangnya kepercayaan sosial terhadap seseorang. Dan kehilangan mianzi berakibat pada kehilangan wibawa dan wewenang seseorang. Contoh gampangnya, gosip tentang seseorang yang mencuri dari kas toko; Ia akan kehilangan lian bukan mianzi. Pada kejadian lainnya, memotong pembicaraan bos/atasan seseorang menyebabkannya kehilangan mianzi bukan lian.

Orang Cina berusaha sebisa mungkin menghindari suatu konflik dalam melanggengkan hubungan dengan sesamanya. Ketika mereka menghindari konflik biasanya orang Cina akan berusaha untuk tidak menyebabkan seseorang kehilangan mianzi-nya, yaitu dengan tidak memunculkan kenyataan-kenyataan yang memalukan ke hadapan publik. Sebaliknya, ketika mereka ingin menantang suatu wewenang atau orang lain dalam suatu komunitas tertentu, orang Cina akan berusaha menyebabkan orang tersebut kehilangan lian atau mianzi. Satu contoh publik akan hal ini yaitu saat Tragedi Tian’anmen 1989 di mana Wu’er Kaixi mencemooh PM Li Peng karena datang terlambat untuk bertemu dengan para demonstran. Akibatnya, Li Peng kehilangan mianzi karena dia terlihat datang terlambat dan menjadi figur pemerintah yang sangat tidak populer di mata kalangan publik Cina, khususnya menyangkut peristiwa Tian’anmen. Konsep serupa juga ditemukan pada kebudayaan Jepang dan Korea.

II.III. Xinyong

Dalam istilah bahasa Inggris, xinyong disebut sebagai gentlemen’s agreement (Cheng, 1985). Xinyong dalam budaya bisnis Cina bermakna sebagai sebuah jaringan antar pribadi.
Bagi orang Cina kepercayaan antar pribadi merupakan hal yang terpenting. Para pengusaha etnis Cina biasanya hanya berhubungan komersial dengan orang yang sudah mereka kenal. Oleh karena itu, reputasi seseorang penting artinya bagi transaksi bisnis. Dahulu, para pebisnis Cina secara pribadi akan berhubungan langsung dengan rekan-rekan bisnisnya, karena hal ini akan meningkatkan kemutlakan peran pemilik di samping tetap menjaga reputasinya sebagai pemilik perusahaan. Fenomena serupa terjadi hingga kini di perusahaan-perusahaan milik etnis Cina di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Sebaliknya, fenomena di Cina Daratan menunjukkan bahwa kehadiran seorang pemimpin perusahaan dalam sebuah pertemuan bisnis tidak selalu signifikan, karena keputusan final tetap dipegang oleh komune/dewan eksekutif yang belum tentu hadir di pertemuan tersebut, yang bisa saja mengakibatkan suatu pertemuan bisnis dengan tema yang sama dapat terjadi berkali-kali dan mungkin sangat alot bagi pihak asing yang masuk ke dalam lingkaran mereka.

Xinyong dapat tertuang dalam kontrak verbal di suatu transaksi bisnis. Penandatanganan kontrak kadang-kadang tidak diperlukan, biasanya hanya diperlukan dengan badan-badan pemerintah. Persetujuan verbal dianggap sudah cukup. Jika pihak I mengatakan akan melakukan sesuatu maka dia tidak akan ingkar. Bagi mereka ingkar adalah perbuatan yang dapat mencoreng mianzi. Jika tersebar reputasinya akan jatuh dan tidak akan ada lagi yang bersedia bisnis dengannya lagi (atau kehilangan lian).

III. Budaya Bisnis RRC pada Masa Moderen

Angin perubahan pada RRC moderen secara kebudayaan dapat dikatakan dimulai sejak kejatuhan dinasti Qing, yaitu saat pengaruh asing masuk secara masif ke daratan Cina dan mempengaruhi segala aspek kehidupan secara signifikan. Salah satu contohnya adalah dengan diberlakukannya Perjanjian Nanking yang sangat memberatkan bangsa Cina dan mengharuskan Cina untuk membuka diri terhadap dunia luar. Tercatat pada era ini dasar bagi perekonomian dan kebudayaan Cina moderen telah mengalami perubahan yang berarti. Kebudayaan lama mulai ditanggalkan dan nilai-nilai yang dianggap sudah tidak relevan lagi dienyahkan. Salah satu buktinya adalah wusi yundong (peristiwa 4 Mei 1919), yang berusaha menghapuskan Konfusianisme di Cina serta merubah dunia kesusastraan dan sosial-kebudayaan masyarakat Cina. Cina sejak dahulu penuh dengan nilai-nilai revolusioner.

Budaya bisnis Cina moderen sendiri mengalami perubahan yang signifikan sejak era tadi. Secara garis besar, gejolak di Cina pada awal abad kedua puluh memunculkan kelas baru di masyarakat Cina yang disebut dengan kelas komprador. Golongan ini bertugas mewakili hubungan dagang antara pemerintah Cina (saat itu masih dipegang Dinasti Qing) dan pihak Barat atau negara asing lainnya. Saat itu, di tengah-tengah masyarakat sendiri pertentangan konsep antara bisnis dan nilai-nilai patriotisme (bukan lagi nilai moral), masih hangat sekali. Sebagian masyarakat Cina masih mengharamkan bisnis (apalagi) dengan pihak barbar/asing, sebagian lagi marah karena diinjak-injak martabatnya oleh bangsa asing sehingga mereka mencari alternatif-alternatif dalam mengatasi penghinaan semacam ini. Kelas komprador lah yang mengawali sepak terjang Cina dalam dunia bisnis moderen.

Pada perkembangannya ketika kaum komunis mutlak menguasai pemerintahan Cina daratan, dunia bisnis Cina (dalam konteks ini individu maupun badan swasta) untuk sekali lagi kembali ditekan. Segala individu maupun badan swasta yang melakukan bisnis tanpa otorisasi elit kaum komunis pasti akan dicap sebagai antek-antek kapitalis atau dengan kata lain bertentangan dengan nilai-nilai kaum revolusioner. Begitu ekstremnya tindakan kaum revolusioner Cina hingga kesusastraan Cina pun dijadikan alat propaganda untuk mendukung komunisme, salah satunya dengan menyerang para kapitalis atau individu yang dianggap sebagai oposisi. Sejak merdeka (1949) hingga sebelum diberlakukannya gaige kaifang (1979), RRC memeluk “ekonomi terencana secara pusat”, yang menempatkan negara pada posisi sentral. Selama 30 tahun itulah dunia bisnis RRC stagnan.

Baru pada Desember 1978, yaitu ketika Kongres XI Partai Komunis Cina mengesahkan rumusan gaige kaifang atau kebijakan reformasi dan keterbukaan, bisnis RRC kembali menggeliat. RRC masuk pada tahap baru, jauh berbeda dibanding sebelumnya. Bahkan seorang Deng Xiaoping sekalipun menegaskan dalam evaluasinya yang dikeluarkan pada September 1982 : “Kemiskinan bukan sosialisme. Sosialisme berarti melenyapkan kemisikinan.”.

III.I. Demam Bisnis di Cina Moderen

Nilai-nilai bisnis masyarakat Cina berubah luar biasa sejak 1978. Sejak saat itu makin banyak masyarakat yang memandang berkarier di bidang bisnis sebagai profesi yang layak. Media mula-mula menyebut gejala ini sebagai “demam bisnis”. Terlebih pada 1979 sampai 1997, banyak orang Cina memandang bisnis sebagai jalan terbaik untuk memperoleh uang. Situasi ini juga menimpa cendekiawan Cina yang kini memilih bisnis sebagai pilihan karier terbaik dan menantang nilai tradisional yang memandang studi sebagai jalan menuju birokrasi. Pergeseran budaya ini telah menjadi pokok pembicaraan sebagian besar masyarakat Cina.

“Demam bisnis” mula-mula timbul pada 1984, yaitu ketika pasar kerja paruh waktu melibatkan banyak karyawan perusahaan milik negara, petani di pedesaan, mahasiswa, dan beberapa cendekiawan. Ledakan kedua yaitu sekitar tahun 1990, yang ditandai hengkangnya pejabat-pejabat pemerintah, kader partai, dan dosen-dosen perguruan tinggi ke sektor perdagangan.
Gejala yang dipicu oleh perubahan fundamental ini bermakna perubahan yang luar biasa pada pola kepercayaan tradisional rakyat kebanyakan dan cendekiawan Cina. “Demam bisnis” menandai berakhirnya satu nilai sosial yang telah berumur 2.000 tahun, yaitu bahwa menjadi pejabat negara adalah tujuan akhir yang wajar dari perjalanan akademis seseorang. Dalam waktu kurang dari satu generasi, peran ilmuwan/cendekiawan Cina telah bergeser dari penjaga pintu gerbang nilai Konfusian menjadi agen penggerak dan pembela perubahan sosial yang terbesar di Cina.

IV. Budaya Perusahaan Cina Moderen

Globalisasi memacu setiap negara di dunia untuk terus meng-update sistem yang dimilikinya dan bersaing agar dapat terus survive, tidak terkecuali RRC. Terpengaruh oleh pandangan pemikir dan praktisi manajemen Barat, sejumlah manajer senior Cina mulai menimbang-nimbang kemungkinan untuk mengembangkan budaya perusahaan yang khas Cina untuk masa kini. Mereka menilai bahwa model yang baru harus menyempurnakan budaya tradisional maupun budaya perekonomian pasar yang kompetitif dan sedang berkembang. Sejak saat itu, muncullah identitas perusahaan Cina yang unik. Identitas tersebut mencerminkan budaya tradisional Cina dan nilai-nilai moderen yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang sangat cepat. Berikut beberapa aspek unik tersebut:

1. Susunan Organisasi - “Dua Kendali”

Perbedaan terbesar antara susunan organisasi kebanyakan perusahaan di Cina dan semua perusahaan Barat adalah adanya sistem manajemen pararel di perusahaan Cina. Yang pertama adalah sistem administrasi dan yang kedua adalah struktur kepemimpinan internal yang melibatkan orang-orang di lingkungan Partai Komunis. Manajer Cina sering menyebut sistem ini sebagai sistem “dua kendali”. Sebelum Reformasi Perusahaan pada tahun 1984, seorang sekretaris Partai Komunis mengawasi semua perusahaan Cina. Setelah 1984, seorang manajer umum juga diberi tanggung jawab mengelola perusahaan. Sejak saat itu sekretaris Partai Komunis dan manajer umum dituntut untuk memikul tanggung jawab yang sama (sistem pararel). Dengan sistem pararel, Partai Komunis mempunyai wakil hampir di setiap badan usaha milik negara, perusahaan bersama, dan perusahaan patungan. Tanggung jawab pokok Partai Komunis adalah mengawasi dan menjamin arah strategi perusahaan serta turut serta dalam pengambilan keputusan penting, terutama yang menyangkut karyawan. Di beberapa perusahaan kecil, direktur eksekutif bisa saja merangkap menjadi pimpinan perusahaan sekaligus sekretaris Partai Komunis. Akan tetapi, di kebanyakan perusahaan milik negara dan usaha patungan besar, jabatan direktur eksekutif dan sekretaris Partai Komunis dipegang oleh orang yang berbeda. Penerapan sistem pararel sering menimbulkan beda pendapat di antara kedua manajemen itu.

2. Fungsi Organisatoris - “Masyarakat Kecil”

Salah satu ciri manajemen Cina yang menonjol adalah peranan organisasi yang sangat besar dalam kehidupan, baik profesional maupun pribadi para karyawan. Kebanyakan perusahaan di Cina tidak hanya memberi kesempatan kerja dan gaji kepada para karyawan, tetapi juga harus menyediakan segala macam keperluan materiil karyawan termasuk asuransi kesehatan, perumahan, perawatan anak, sekolah, dan hiburan. Bahkan, beberapa perusahaan besar milik negara membuka toko eceran di sekitar lingkungan kerja untuk melayani para karyawan. Fungsi organisatoris perusahaan Cina serupa dengan fungsi suatu masyarakat kecil. Kebanyakan perusahaan Cina (setidaknya karyawan BUMN) mengetahui dengan jelas bahwa perusahaan yang dapat dipercaya harus memperhatikan semua segi kehidupan karyawan, termasuk lingkungan kerja dan keluarga mereka. Di samping menangani masalah pengembangan dan dan operasi perusahaan sehari-hari, seorang direktur eksekutif harus menyediakan banyak waktu dan tenaga untuk membina kesejahteraan pribadi para karyawan. Seorang direktur eksekutif yang dapat dipercaya harus terampil memimpin tim manajemen yang bertanggung jawab atas pusat perawatan anak, penyediaan fasilitas perumahan yang terbatas, dan mengatur penyediaan makanan pada kesempatan istimewa dan pesta-pesta. Bahkan, ia diharapkan bisa meredakan perselisihan keluarga atau antarpribadi yang serius. Peranan seorang manajer senior di perusahaan Cina sangat rumit.

3. Nilai-nilai perusahaan Cina

Manajemen perusahaan di Cina masih terpengaruh oleh nilai-nilai Konfusian, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui sosialisasi dalam keluarga. Walaupun pemerintah berusaha meniadakan nilai-nilai lama melalui Revolusi Kebudayaan (1964-1976), pengaruh itu masih kuat hingga kini.

Berikut beberapa karakteristik yang menjadi nilai-nilai perusahaan Cina tersebut :

• Orientasi Manajemen pada “Prestasi Bersama”
Para manajer Cina memegang teguh prinsip berorientasi pada kelompok atau kepentingan bersama. Tuntutan atas pengakuan prestasi individu biasanya ditolak. Meskipun penelitian terakhir menyebutkan bahwa motivasi karyawan Cina untuk mengukir prsetasi diri menguat sejak pertengahan dekade 1990-an, tapi sikap berorientasi pada kelompok ini masih menjadi hal yang utama dalam manajemen perusahaan. Para manajer yang menganut etika manajemen non-kompetitif ini, tetap berpandangan bahwa setiap individu hendaknya bekerjasama secara selaras dengan yang lainnya sehingga mendukung organisasi tersebut.

• Ketidakpercayaan dalam organisasi

Dalam banyak organisasi para manajer Cina tidak sepenuhnya mempercayai bawahan, antara lain karena alasan nilai hierarkis. Mereka menganggap organisasi sebagai sistem keluarga . Dari sudut pandang budaya, menurut sistem ini bawahan diperlakukan sebagai “anak-anak” yang bergantung dan tidak dapat dipercayai sepenuhnya. Di sisi lain, manajer umum Cina dipandang sebagai “orangtua” yang harus menjaga dan mengawasi “anak-anak”-nya. Oleh karena itu, banyak perusahaan di RRC yang dijalankan hanya oleh satu figur ayah yang kuat. Segala keputusan penting perusahaan diambil secara mutlak oleh senior/para manajer atas perusahaan.

• Kerjasama berdasarkan kepatuhan dan pentingnya keserasian hubungan

Para manajer Cina bekerja dalam lingkungan kerja yang semi otoriter. Dengan sistem manajemen yang top-down itu, para bawahan diharapkan tunduk sepenuhnya dan menjalankan instruksi manajer mereka dengan sungguh-sungguh. Kompromi dan kepatuhan bawahan merupakan nilai budaya Cina yang fundamental. Pada dimensi yang sama, hubungan ini diharapkan dapat selalu selaras sehingga mendukung operasional organisasi tersebut. Oleh sebab itu, para manajer Cina seringkali lebih banyak memperhatikan hubungan pribadi di lingkungan kerja dibanding tugas yang ada. Pada dimensi yang lebih luas, konsep guanxi selalu menjadi acuan utama perusahaan dalam interaksinya dengan organisasi lain.

V. Budaya Bisnis RRC, Globalisasi, dan Semangat Kebanggaan Nasional

Cina adalah salah satu bangsa tertua di dunia yang memiliki harga diri dan martabat yang tinggi. Sejarah panjang yang terukir dalam perjalanan peradaban mereka mencerminkan dinamika kebudayaan yang lahir dan mati seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, tidak heran jika perubahan selalu terjadi. Berbagai kejadian domestik hingga internasional yang mempengaruhi, terbukti menempa masyarakat Cina untuk selalu beradaptasi dengan sekitarnya.

Masih hangat di benak kita saat Deng Xiaoping mengumumkan kebijakan pintu terbukanya pada 1979, khalayak RRC sekali lagi terhentak oleh angin perubahan. Di daratan Cina masyarakat setempat begitu antusiasnya meneriakkan slogan reformasi. Bagaimana mungkin sebuah negara komunis totaliter yang identik dengan ejekan “Tirai Bambu” ini, tiba-tiba saja menyulap negaranya menjadi sebuah pasar ekonomi bebas hampir serupa dengan para seterunya, negara-negara Barat penganut kapitalisme? Ada dua hal signifikan yang dapat menjelaskan fenomena ini: Globalisasi dan kebanggaan nasional.

Dalam dunia moderen yang semakin sempit ini, RRC melakukan terobosan-terobosan baru dalam menjaga eksistensinya. Hal ini sangat erat berkaitan dengan globalisasi. Perlu diketahui, bahwa RRC merupakan pemain lama dalam globalisasi. Hal ini sudah dilakukannya sejak awal abad Masehi dengan dibukanya jalur sutra, dan pada Dinasti Ming mengirimkan banyak ekspedisi ke luar negri. Hanya saja, RRC dengan paradigma-nya yang inward-looking, memiliki cara yang unik dalam menjalankan globalisasi. Ketika dunia asing (Barat) menyentuh teritori dan otoritas Cina secara masif pada akhir abad ke-19, Cina mengalami perubahan yang drastis. Konsep monarki runtuh dan digantikan dengan konsep yang lebih moderen; demokrasi republik. Perkembangan terakhir yang kita ketahui kini, RRC menjalankan ekonomi pasar sosialis-nya. Menurut para elit politbiro RRC, Cina saat ini sedang mengalami tahap awal sosialisme.

Kedua, semangat kebanggaan nasional. Ketika Cina dijajah dan “dibagi-bagi” oleh bangsa Barat (juga Jepang) pada awal abad ke-20, kebencian terhadap bangsa asing semakin menjadi-jadi. Pihak Cina yang dipimpin oleh Sun Yat Sen berhasil merobohkan dinasti Qing dan mengarahkan Cina ke arah kemerdekaan dengan konsep negara yang lebih moderen dan relevan. Sangat disayangkan bahwa agresi Jepang dan konflik domestik (pertentangan kaum nasionalis-komunis) pada era ini, harus menunda kemerdekaan Cina. Setelah merdeka pada 1949, kaum komunis yang memimpin RRC, mutlak tampil sebagai penguasa tunggal. Rakyat RRC di bawah kepemimpinan Mao Zedong dipenuhi oleh gelombang “kediktatoran proletariat”, yang muncul sebagai semangat sosial dalam menghadapi kekuatan asing di Cina. Akibatnya, segala hal yang berbau Barat (atau produk kapitalisme) secara ekstrem dilarang dan dienyahkan. Dunia bisnis RRC dikontrol secara terpusat oleh pemerintah. Baru pada era Deng, RRC memeluk pendekatan yang berbeda dalam menghadapi globalisasi, namun masih dengan isu yang sama; kebanggaan nasional. RRC mencapai keajaiban ekonomi yang menakjubkan dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Ladang bisnis pun digarap secara serius oleh pemerintah dan dibuka luas untuk orang asing.

Dari sudut pandang budaya, RRC saat ini mengalami begitu banyak perubahan, akan tetapi tidak semuanya merupakan nilai-nilai kebudayaan asing yang diadaptasi. Pada budaya bisnisnya, tidak sedikit orang Cina yang mensikretiskan nilai-nilai lama dengan nilai bisnis moderen. Ini semua tercermin dalam elemen kebudayaan yang muncul dalam interaksi dan operasional perusahaan / organisasi mereka.

BIBLIOGRAFI

Boisot, M. & Child J. From fiefs to clans and network capitalism: Explaining China’s emerging economic order. USA : Administrative Science Quarterly, 2000.
De Dreu, C. & Van de Vliert, E. Using conflict in organizations. Beverly Hills, CA : Sage, 1997.
Ding, D.Z. In Search of Determinants of Chinese Conflict Management Styles in Joint Ventures: An Integrated Approach. Paper, City University of Hongkong : Hongkong, 1996.
Fishman, Ted. C. China Inc. USA : Simon & Schuster Inc, 2005.
Henderson, Callum. China on The Brink. Singapore : McGraw-Hill, 1999.
http://chinese-school.netfirms.com
http://en.wikipedia.org
Kirkbride, P.S. Tang, S.F.Y. & Westwood, R.I. Chinese conflict preferences and negotiating behaviour: Cultural and Psychological influences. Organizational Studies, 12, 365-386, 1991.
Levy, Marion J., Jr & Guo Hengshi. The Rise of The Modern Chinese Business Class. New York : Institute of Pacific Relations, 1949.
Morse, H.B., The Guilds of China. New York: Longmans, Green and Company, 1932.
Triandis, H.C., McCusker, C. & Hui, C.H. Multimethod probes of individualism and collectivism. Journal of Personality and Social Psychology, 1990.
Whiteley, A. (Juli 2004). Mengelola Bisnis Pendidikan dalam Konteks Budaya Cina. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Juli 2004.
Wibowo, I. Belajar Dari Cina. Jakarta : Penerbit Buku Kompas, Januari 2004.
Yuan, Wang & Goodfellow, Rob. & Xin ShengZhang. Menembus Pasar Cina. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, Agustus 2000.

Ditulis oleh: Denis L. Toruan

http://fikirjernih.blogspot.com/2010/03/budaya-bisnis-rrc-pada-era-globalisasi.html

No comments:

Post a Comment

Post a Comment